happiness. home. and a killing machine.

flight journal

Blog EntryMistisme KitaJul 24, '08 12:15 AM
for everyone

Para musisi amatir sekarang punya cara baru untuk bisa jadi terkenal. Tak usah menempuh jalan panjang sulit berliku dan menanjak dengan menembus major label dan tangga lagu. Tak usah pula mengeluarkan banyak modal dan menggemborkan idealisme di indie label. Bahkan, tak perlu melangkahi jalan pintas ikut Indonesian Idol yang belum tentu bakal terus terkenal setelah kontes usai. Ada cara baru yang bisa membuat Anda—dan lagu Anda—jadi terkenal dan dinyanyikan semua orang, sebiasa apapun lagu Anda. Mau tahu caranya? Buatlah lagu, rekam, dan buat cerita mistis yang menarik perhatian anak-anak ABG, misalnya bilang saja kalau penyanyi lagunya bunuh diri setelah menyanyi. Sebarkan rekaman lagu itu melalui ponsel, dan sebarkan gosip bahwa barang siapa yang berani menyanyikan lagu itu pada tengah malam, hantu Anda akan datang dan mencekiknya sampai mati. Awalnya masyarakat (terutama murid-murid SD terdekat di kota Anda) akan gempar dan ketakutan setengah mati, tapi mereka penasaran. Anda hanya perlu menunggu beberapa saat, maka kurcaci-kurcaci infotainment akan mulai bertebaran membicarakan lagu Anda. Lagu Anda akan diputar di penjual-penjual MP3 bajakan, tukang odong-odong, bahkan televisi dan radio. Mudah kan? Hanya perlu sedikit kreatifitas dan boom! Lagu Anda jadi top chart tanpa harus mendakinya.

Tentu itu sudah bukan cara yang baru lagi. Boomingnya lagu Gabby juga menggunakan metode itu. Sudah beberapa bulan berlalu, tapi infotainment masih saja menggaruk-garuk sensasi dari cerita itu, tentunya karena mereka juga adalah pihak yang diuntungkan. Kalau cerita itu benar, mungkin sekarang Gabby sedang naik daun di tangga lagu akhirat, mencoba menggoyahkan Kurt Cobain.

Kepercayaan orang Indonesia yang berlebihan terhadap hal-hal mistis, bisa menjadi komoditi sendiri dalam dunia bisnis. Bukan hanya dunia bisnis, tapi juga politik. Ayah saya adalah seorang yang amat percaya dengan hal-hal mistis (berbeda dengan saya yang lebih skeptik dan ibu saya yang ragu-ragu). Ia percaya bahwa Soekarno memiliki kekuatan supranatural. Ia bercerita bahwa Soekarno, proklamator kita itu, dengan kekuatan mistiknya bisa berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang sama. Saya bilang, “Ah, paling Deddy Corbuzier juga bisa.”. Dia tetap ngotot. Entah mungkin ia juga percaya kalau Soekarno pernah punya affair dengan Nyi Roro Kidul, penunggu pantai selatan.

Ia juga bercerita kalau para wali dan ulama zaman dahulu memiliki kekuatan ajaib (yang anehnya bagi saya terdengar seperti mukjizat). Katanya mereka bisa pergi ke Mekkah hanya dengan kekuatan gaib melalui jalur-jalur di dalam gua (kalau itu benar, mungkin kita bisa menangani masalah jemaah haji di zaman sekarang). Katanya ada juga yang bisa terbang, kebal peluru, jalan di atas air, dsb. Saya pernah mendengar komentar orang Amerika ketika mendengar mitos-mitos itu.

“If that’s true, then Indonesia would have ruled the Earth by now.”

Ya, saya pikir ada benarnya. Dengan kiai-kiai berkekuatan Son Goku dan Mak Lampir yang bisa terbang, seharusnya penjajah Belanda bisa ditumpas dengan mudah. Santet komandannya, tenggelamkan kapalnya, kirim pasukan kebal peluru, dan saat ini Indonesia pasti sudah menjadi negara superpower—dalam dunia myth and magic.

Baru-baru ini mulai ramai diperbincangkan mengenai manusia kawat, yang dari perutnya bisa keluar banyak kawat kecil. Ayah saya tidak ketinggalan ikut mengomentarinya sebagai santet. Tentu, saya tidak menampik bahwa ilmu sihir memang ada. Tapi, kita tidak seharusnya menggantungkan hidup kita pada hal seperti itu. Bagaimanapun, ilmu sihir adalah hal terlarang. Tidak perlu ada sihir hitam dan sihir putih. Orang yang hatinya bersih, tidak perlu meminta bantuan jinn apalagi setan untuk menyelesaikan masalahnya. Manusia diberi akal dan ilmu oleh Allah adalah untuk digunakan dan dimanfaatkan. Kalau manusia bergantung pada kekuatan gaib (terserah apa namanya, sihir putih, karomah, atau apalah), sama saja menelantarkan potensi paling ajaib yang dimiliki manusia: akal pikiran.

Saya percaya bahwa dalam hidup ini hanya ada dua hal yang mesti dipercaya dan dijadikan pedoman: Agama dan ilmu pengetahuan. Itu artinya, hal-hal yang tidak terdapat dalam kitab/aturan agama, dan juga tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tidak perlu dipercaya. Dan saya punya hak untuk bersikap skeptik dalam wilayah itu.


gambar: http://www.geocities.com/primbon2000/hantu20.jpg


Blog EntryPromosi Kaos FancyJul 4, '08 7:04 PM
for everyone
Pesan sekarang! T-shirt keren ini cuma Rp. 50000 !!!

Desain oleh Rega, seorang mahasiswi FSRD ITB

kaos fancy 3

Blog EntryKaos Keren Rp 50.000! Segera pesan!Jul 4, '08 5:23 AM
for everyone
kaos fancy 3

desain oleh Rega, mahasiswa FSRD ITB

Blog EntryRamalan Dan Kutukan Surat BerantaiMay 24, '08 11:59 PM
for everyone
[co_mbro] halo, mau diramal?
[co_mbro] aku bisa lho...
[ce_cri_peramal] bneran?
[co_mbro] mo diramal apa?
[ce_cri_peramal] ttg sifat2 aq
[co_mbro] ooo...
[co_mbro] ngapain pake diramal, kan kamu udah tau??
[ce_cri_peramal] ya aq kan g bs nilai diri sendiri
[co_mbro] menurutku... kamu tuh orangnya
[co_mbro] kurang jujur
[ce_cri_peramal] akh kt sypa
[co_mbro] kata saya
[co_mbro] kadang2 suka egois
[ce_cri_peramal] trs gmn lg
[co_mbro] trus
[co_mbro] agak sensitif
[ce_cri_peramal] lumayan
[co_mbro] apanya lumayan?
[ce_cri_peramal] pandangan org ttg aq ky gmn
[co_mbro] menurtku kamu mesti lebih percaya diri
[co_mbro] supaya org2 juga bisa lebih percaya ma kamu
[co_mbro] jgn berusaha utk jadi org lain, jadi diri sendiri aja
[ce_cri_peramal] emg q slama ni krg bs jd diri sendiri?
[co_mbro] bisa, tapi kadang kamu kurang percaya
[co_mbro] suka ragu2
[ce_cri_peramal] krg PD mksdnya?
[co_mbro] hmm... bknnya pede karena malu, tapi karena ga percaya aja
[ce_cri_peramal] y kdg emg ska gt c

Potongan percakapan di atas adalah percakapan saat saya chating di mIRC. Ketika itu ada seseorang yang sedang mencari orang yang bisa meramal, karena dia ingin diramal. Saya pun, yang sedang iseng, melakukan eksperimen (atau dalam bahasa kasarnya, menjahili). Saya berpura-pura menjadi orang yang bisa meramal, padahal saya hanya menebak-nebak dan sedikit menganalisa. Tapi yang membuat saya tertawa adalah pertanyaan yang ia ajukan: dia minta diramal kepribadiannya. Garis bawahi, kepribadiannya, bukan kepribadian orang lain. Buat saya itu aneh. Kepribadian diri sendiri aja kok, pake nanya peramal segala? Tanya aja sama orangtuanya, sahabat-sahabatnya, tetangganya, atau tanya dirinya sendiri! Saya pun jadi mudah menyimpulkan: dia adalah orang yang kurang percaya diri. Pada saat saya bilang (dengan sok meramal) “Kamu tuh orangnya kurang percaya sama diri sendiri.”, mungkin dia jadi manggut-manggut di depan komputernya dan berpikir “wah gue lagi diramal!”. Padahal tidak. Dia sedang dibohongi. Dasar bodoh... :-D (tertawa jahat ala Mr.Black)

Itulah satu kunci dari cara kerja ramalan: semua orang yang minta diramal adalah orang yang tidak percaya diri (tapi percaya dukun). Dan itu berarti, modal untuk bisa menjadi seorang peramal adalah hal yang simpel, tidak perlu bertapa di kuburan berhari-hari atau belajar kartu tarot segala. Asalkan pintar menganalisa keadaan (dan korban, tentunya), serta punya kemampuan untuk mempengaruhi orang lain (punya kharisma, pintar bicara dan bermain logika), itu sudah cukup. Selanjutnya Anda tinggal mendatangi orang-orang bodoh yang kurang percaya diri dan percaya takhayul (ada banyak di Indonesia, kalangan pejabat atau selebritis lebih baik prospeknya), maka Anda mungkin bisa jadi terkenal seperti Ki Joko Bodo atau Mama Lorenz.

Agar kita tidak menjadi bodoh (dan dibodoh-bodohi), kita pun harus sadar bahwa alam bawah sadar kita selalu menyukai hal-hal yang menarik: mistik, gaib, ajaib, dsb. Oleh karena itu, kita seringkali percaya pada suatu hal, bukan karena hal itu benar, tapi karena hal itu menarik. Contohnya, Anda percaya pada surat berantai berisi kutukan? Seperti ini :

Blablabla.... Sebarkanlah surat ini ke minimal 100 orang lainnya. Kalau tidak, maka Anda akan mendapatkan kutukan sial selama 7 tahun. Jangan menganggap remeh surat ini, sudah banyak bukti di masyarakat yang menyepelekan surat ini dan sekarang menyesal. Seorang pejabat di Malaysia bernama Abdul Hamid, membuang surat ini karena tidak percaya, lalu seminggu kemudian ia ditimpa kesialan bertubi-tubi. Akhirnya ia menyesal. Setelah itu ia mengambil kembali suratnya dan memfotokopi surat tersebut dan dibagikan kepada 100 orang –bahkan dimuat di surat kabar lokal, besok harinya kesialannya berhenti. Demi Allah, saya tidak berbohong.

Coba Anda baca tulisan di atas dengan pikiran yang jernih, bisa mudah kita simpulkan bahwa tulisan tersebut murni hanya permainan psikologis semata. Ada berapa banyak orang bernama Abdul Hamid di Malaysia, dan siapa pula yang mau memeriksanya? Apa benar ada orang bernama Abdul Hamid yang menerima surat itu? Apa iya dia benar-benar terkena sial? Sial seperti apa? Dan kalau memang ia benar terkena kesialan, apa benar hal itu disebabkan karena ia tidak menyebarkan surat berantai?

Saya sudah cukup sering menerima surat seperti itu, baik dalam bentuk kertas, sms, ataupun email. Dan tidak pernah saya balas atau sebarkan (kecuali yang saya karang sendiri, hehe). Namun, tidak pernah sekalipun saya merasa terkena kutukan dari surat-surat berantai itu. Seperti halnya setiap orang, saya kadang bernasib malang dan kadang bernasib mujur, dan itu tidak ada hubungannya dengan selembar kertas dan informasi tidak berguna yang saya terima.

Lalu apa sih yang membuat seorang Abdul Hamid (anggap saja kalau orang itu benar-benar ada) merasa terkena kutukan dari surat berantai? Jawabannya adalah sugesti. Ia tidak benar-benar skeptik, di dalam dirinya ada secuil saja rasa percaya terhadap surat itu, dan itulah yang membuat kutukannya menjadi kenyataan. Ini adalah masalah perasaan.

Mari kita selami perasaan Cik Abdul. Bayangkan Anda menerima surat dengan pesan seperti yang saya contohkan di atas, lalu karena Anda adalah seorang pejabat, Anda gengsi bila terlihat sebagai orang yang percaya takhayul. Anda pun merobek surat itu. Tapi di dalam hati Anda, Anda penasaran. Ada sedikit rasa percaya-ngga-percaya. Setelah merobek surat itu, Anda pun terus menerus memikirkannya dan bertanya-tanya, “Apa benar saya akan tertimpa sial karena surat itu?”.

Besoknya, Anda mendapati bahwa kartu ATM Anda tertinggal di mesin ATM! Lalu Anda bergumam, “Wah saya kena sial! Jangan-jangan karena surat itu!”

Besoknya lagi, Anda gagal naik jabatan karena kalah bersaing dengan rival Anda. Lalu Anda bergumam, “Duh sial bener! Kenapa sih bisa gagal? Masa iya karena surat itu?”

Tiga hari kemudian, rumah Anda kemalingan. Pasti yang ada di pikiran Anda, “Bener! Ini gara-gara saya merobek surat itu!”

Padahal, kalaupun Anda tidak merobek surat itu, mungkin saja Anda tetap akan kehilangan kartu ATM, gagal naik jabatan, dan kemalingan. Tapi anehnya, Anda tidak akan menganggapnya sebagai kesialan. Apalagi selama tujuh tahun. Dan kalau Pak Abdul mau jujur, sebenarnya di antara rentetan kesialannya itu, ia juga mendapat keberuntungan: menang undian berhadiah, belanja harga diskon, atau kenaikan gaji walau ia tidak jadi naik jabatan. Tapi karena ia dihantui oleh ‘kutukan’ surat berantai itu, ia pun tidak menganggap hal-hal tadi sebagai keberuntungan. Ia menanti-nanti kesialan.

Nah, kalau Anda adalah orang yang sering meneruskan surat-surat berantai baik di Friendster Bulletin, Email, Yahoo! Messenger, ataupun SMS, berhentilah mulai dari sekarang. Anda tidak perlu takut terhadap kutukan. Selama Anda tidak percaya, maka kutukan itu tidak akan pernah ada, karena Anda sendiri yang menciptakan kutukan itu. Dan juga, jangan tertipu, banyak trik orang iseng untuk membuat surat berantai:

  1. Cerita-cerita sedih yang menurutnya memiliki amanat yang baik. Padahal dia cuma penulis amatir yang nggak kesampaian dan butuh publikasi. Jangan meneruskan pesan seperti ini, karena bisa saja cerita tersebut adalah hak cipta orang lain yang dia plagiat.
  2. Berkedok agama. Orang seperti ini tidak segan-segan untuk bersumpah, Demi Allah, atau Demi Tuhan. Lalu dia menceritakan cerita religius yang entah darimana asalnya. Hey, mana ada pendakwah yang mengutuk jemaatnya? Jadi, jangan nodai agama Anda sendiri dengan meneruskan surat macam ini!
  3. Hari persahabatan sedunia. Ini adalah tema yang konyol. Tidak ada orang yang membangun persahabatan dengan surat berantai! Anda hanya dibodohi, jangan diteruskan.
  4. Email peringatan terhadap bahaya virus komputer. Ini lebih berbahaya, karena seringkali justru email ini yang mengandung virus itu sendiri!
  5. SMS forward berhadiah. Biasanya mengatasnamakan suatu perayaan tertentu. Ini jelas bohong! Tidak ada orang yang diberi hadiah (oleh operator ponsel) karena menyebarkan surat berantai!
  6. Mengatasnamakan admin suatu kelompok. Pernah saya dapatkan email yang mengaku terusan dari pemilik Friendster yang sedang mengecek keaktifan akun. Konyol sekali. Seorang pemilik situs tidak perlu mengirim surat berantai untuk mengecek keaktifan membernya!
  7. Dan masih banyak lagi.

Dengan kata lain, semua surat berantai adalah surat yang tidak bertanggung jawab, dan sama sekali tidak perlu dipercaya. Lain halnya kalau Anda memang senang dibodoh-bodohi oleh orang lain.

Hal yang sama juga berlaku untuk ramalan (zodiak, tarot, dsb). Selama Anda tidak percaya pada ramalan, maka ramalan itu tidak nyata. Ramalan hanya untuk orang yang tidak percaya diri, dan dia membutuhkan suatu perkataan (apapun itu) agar ia memiliki pegangan. Saya akan mengutip sebuah cerita dari sebuah buku berjudul The Outer Limit oleh Stephen Law:

Tahun 1979, seorang peneliti tentang astrologi memasang iklan di sebuah majalah yang isinya menawarkan ramalan gratis seputar pribadi manusia. Setiap orang yang merespon iklan tersebut akan disuguhkan ramalan yang telah disusun oleh seorang astrolog terkenal. Ketika seseorang menerima ramalan tersebut, mereka akan ditanya tentang seberapa akurat ramalan yang mereka terima. Ternyata hasilnya sangat menakjubkan. Dari 150 responden pertama yang diteliti, 94% menyatakan bahwa ramalan mereka benar, dan 90% teman-teman dan keluarga mereka juga menganggap ramalan-ramalan itu benar.

Padahal....

Mereka mendapatkan petunjuk itu berdasarkan data kelahiran seorang pembunuh ternama, Dr. Petiot, yang dihukum mati pada 1947. Petiot mengaku telah menghabisi 63 nyawa orang dan memasukkan tubuh mereka ke dalam peti!

Berdasarkan contoh sederhana dari buku itu, kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah ramalan, bisa menjadi benar apabila kita mempercayainya benar, dan tidak akan menjadi benar kalau kita tidak mempercayainya. Dengan kata lain, ramalan tidak ada.


Blog EntryMomentumMay 14, '08 8:29 PM
for everyone

Merupakan karya dari program tantangan di Kemudian.com
Postingan asli ada di sini

Penantang: Bintang Alzeyra



--Schnee

Salju itu hinggap di kelopak matanya. Basah. Andra berdiri di sampingku sambil memegang kameranya, sesekali membersihkan salju yang menempel pada benda kesayangannya itu. Hari ini ada banyak objek lagi yang ingin ia amati, tapi ia terlihat agak lelah siang ini. Kulit wajahnya mulai terlihat pucat seperti orang-orangan salju. Aku mengenggam tangannya dan mengajak ia berteduh di teras rumah kami yang mungil. Semburat senyum tenang merekah di bibirnya sambil berlari kecil mengikuti langkahku. Aku tertawa melihat ia yang terlihat bersemangat.

Musim dingin di Belanda bagiku terasa seperti surga. Meskipun di negeri ini salju hanya turun beberapa hari saja, tapi kadang waktu yang paling sebentar sekalipun bisa terasa lebih panjang daripada keabadian. Momentum, begitu katanya. Kini aku dan suamiku berdiri berangkulan di teras rumah sambil memandangi gumpalan-gumpalan putih yang mengarak turun dari langit, serta pohon-pohon berbaris yang seolah diselimuti gula. Tak ada siapapun selain kami berdua. Kusandarkan kepalaku di pundaknya, dapat kurasakan ia menoleh ke arahku. Tatapannya selalu lemah, tapi bola matanya penuh dengan semangat. Di lehernya terjalin selembar syal yang kurajut sendiri semusim yang lalu, kini tak akan pernah ia lepaskan. Selalu saja terlintas dalam benakku, seandainya seumur hidup akan jadi seperti ini. Seandainya seumur hidup salju akan terus turun di pekarangan rumah kami, dan tiupannya yang dingin akan selalu membuat tubuh kami tak pernah mau berpisah walau selangkahpun.

Beberapa menit kami diam tak bersuara, lalu Andra melepaskan sandaranku dari pundaknya. Ia menunjukkan kamera kesayangannya padaku sebagai sebuah isyarat, lalu tersenyum dan berlari ke pekarangan rumah kami. Aku tak bergeming di teras rumah, menatap ia yang menatapku di antara guguran salju. Ia mengangkat kameranya ke dekat wajah dan mulai membidikku. Beginilah dia kalau inspirasinya tiba-tiba saja muncul. Aku berusaha untuk tidak menunduk saat kameranya membidik wajahku. Walaupun sudah ratusan kali ia memotretku, tapi sampai sekarang aku masih saja tersipu malu. Mudah-mudahan saja wajahku tak memerah karenanya. Semerta-merta perasaan ini membawaku kembali ke musim yang lain di tempat yang lain, saat salju-salju itu belum turun dan membasahi kelopak matanya, kira-kira setahun yang lalu....



--Sonnenuntergang


“Gutten morgen!” ucapku sambil menepuk pundaknya dari belakang.

Ia yang sedang terlarut memperhatikan seisi ruang pamerannya spontan saja kaget dan menoleh padaku. Sekilas ia terlihat akan mengucapkan sesuatu, tapi dirapatkannya lagi bibirnya dan malah melepaskan sebuah senyuman lega. Aku membalas senyumannya.

“Wie geht’s?” tanyaku setengah berbisik.
“Gut,” jawabnya singkat.

Tapi kemudian dengan tiba-tiba ia membidikkan kamera yang sejak tadi sudah ada di tangannya. Cklik! Giliranku yang kaget, sementara ia senyam-senyum sendiri. Merasa dipermainkan, aku pukul bahunya dengan pelan. Ia malah tertawa.

“Herr Andra, harus kubilang berapa kali, sebelum memotret orang harus minta izin dulu!”

“Maaf, Nona Eva. Untuk seorang fotografer, momentum adalah sebuah objek yang berharga untuk diabadikan, dan momentum tidak bisa direncanakan. Kamu kan juga fotografer, pasti tahu kan?” ucapnya sambil berlagak serius.

“Oke, aku tahu kamu sudah terkenal sekarang, tapi jangan sok serius begitu dong!” balasku sambil cemberut protes.

Ia tertawa sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih. Seumur hidup tinggal di Jerman, aku tak kenal banyak orang Indonesia, tapi rasanya laki-laki ini adalah orang Indonesia paling tampan yang pernah kulihat. Entahlah, mungkin karena satu dari dua kenalanku yang lain adalah perempuan.

Aku mengenal Andra dari sebuah forum fotografi di internet. Sementara aku bekerja di agensi fotografi Ostkreuz, waktu itu ia sudah menjadi seniman terkenal di negaranya, dan bahkan di dunia internasional. Kira-kira hampir setahun kami berkenalan dan saling bertukar pikiran di dunia maya, akhirnya Andra berkesempatan untuk datang ke Jerman. Ia dan seorang temannya, Doni, mendapat beasiswa di Künstlerhäuser Stiftung Starke di Berlin dan tinggal di Jerman selama setahun. Tentu saja waktu itu aku gembira sekali, karena diam-diam aku sudah mengaguminya sejak pertama kali berkenalan. Semenjak saat itu kami pun semakin akrab, bahkan kami sudah seperti teman sejak kecil. Hari ini sudah genap setahun ia tinggal di Jerman.

“Setelah penutupan pameran ini aku berencana untuk kembali ke Indonesia,” ucapnya dengan nada resah.

“Iya, aku tahu. Kau pasti sudah rindu dengan keluargamu di sana?” tanyaku sambil menyimpan kegelisahan di dalam hati.

Ia mendesah pelan, “seperti yang kamu tahu, aku tidak punya banyak keluarga. Meski begitu, ada juga hal-hal yang harus kulakukan di kampung halamanku.”

“Oke, aku mengerti. Jangan lupa untuk menghubungiku dan kapan-kapan sempatkanlah untuk kembali ke sini ya?” pintaku meyakinkan.

Ia hanya tersenyum dan menunduk, seolah sedang berusaha mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. Aku tak tahu hal macam apa yang ia pikirkan sekarang, ia tampak sangat gugup. Tiba-tiba saja ia menggenggam kedua tanganku.

“Ich hab dich lieb,” ucapnya pelan.

Ucapannya barusan terdengar seperti orang asing yang baru pertama kali belajar Bahasa Jerman dan coba-coba mengucapkan ‘I love you’ kepada pacarnya, ia amat gugup dan suaranya hampir tercekat di tenggorokan. Aku tergagap-gagap menanggapinya, tak tahu harus berkata apa.

“Was meinst du...?” tanyaku.

“Eva..., menikahlah denganku,” ucapnya dengan lebih yakin dari sebelumnya

Aku hanya terdiam, bingung. Ingin aku katakan ‘ya’, tapi aku harus berpikir dulu, aku tak bisa membuat keputusan sepenting ini secara tiba-tiba. Ini bukan seperti ajakan kencan atau nonton karnaval, ini adalah masalah pernikahan.

“Aku mengerti. Besok aku akan pulang ke Indonesia, tapi sebulan kemudian aku akan kembali ke Jerman untuk mendengar jawabanmu. Kalau kau berkenan, aku juga akan membicarakannya dengan keluarga Fritz, orangtuamu,” ia mengehembuskan nafas lega sambil melepaskan genggaman tangannya.

Aku tersenyum padanya, seolah-olah ingin memberinya sebuah sandi, ‘kembalilah bulan depan, kau tidak akan kecewa’. Tapi tak perlu kuucapkan secara verbal, ia pasti akan menepati janjinya, aku yakin itu.



-- Mittag

Tepat seperi apa yang diucapkannya, sehari kemudian ia pulang ke Indonesia. Aku dan temanku yang juga orang Indonesia, Raras, mengantarnya sampai bandara. Sementara itu, teman Andra, Doni, tidak ikut pulang bersamanya. Itu artinya Andra pulang sendirian, aku berharap semoga ia selamat sampai di negaranya.

“Jadi betul kau akan menikah dengan Andra?” Tanya Raras penasaran saat kami duduk-duduk santai di teras rumahku.

“Aku belum bilang begitu padanya, tapi bulan depan ia akan ke sini, dan saat itu aku harus mengatakan jawabannya.”

“Dan jawabanmu?” tanyanya lagi sambil kemudian menyedot lemon tea.

Aku sengaja tak menjawab pertanyaannya, hanya memberi isyarat dengan menaikkan alis sambil tersenyum. Ia mengerti isyaratku dan hanya tertawa terkekeh menanggapinya. Temanku yang satu ini memang sudah lama kukenal dan paling memahami isi pikiranku. Ia adalah orang Indonesia yang pernah kuliah di Jerman, satu kampus denganku semasa kuliah.

“Tapi apa keluargamu tak apa-apa kalau kau menikah dengan orang Indonesia? Dengan orang asing?” tanyanya agak heran.

“Tak apa-apa. Walaupun keluarga besarku terkesan angkuh, tapi mereka tidak memandang orang dari negaranya. Buktinya, ada sepupuku yang menikah dengan orang Belanda dan sekarang tinggal di sana, bahkan kakak laki-lakiku menikah dengan wanita Jepang!” aku menjelaskan, Raras tersenyum gembira mendengarnya.

Hari-hari pun berlalu. Siang mengendapkan malam, dan malam menguap menjadi fajar. Setiap sore aku duduk di teras ini sambil memotret diriku sendiri, melihat perubahan yang ada pada wajahku. Aku ingin tahu, seperti apa ‘wajah penantian’ itu. Cuma tiga puluh hari, bagiku seperti seumur hidup. Mungkin ini yang Andra sebut sebagai ‘momentum’, suatu titik waktu yang terasa seperti keabadian, karena itulah aku memotretnya. Aku ingin menangkap momentum pada wajahku, kegairahanku, ketidaksabaranku untuk mengatakan sebuah jawaban.

Tepat sebulan hari yang dijanjikan, ia tak juga memberi kabar. Esoknya, kucoba hubungi lewat telepon, sudah tidak aktif. Kukirimkan email untuknya, namun selama seminggu tak juga ada balasan. Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah dia sakit? Ataukah dia mengingkari janjinya? Tapi kenapa? Ratusan pertanyaan menyelimuti pikiranku bagaikan labirin yang tak berujung.

Kupotret lagi wajahku. Kini jauh lebih suram dari yang bisa kubayangkan. Ternyata wajah kecemasan itu seperti ini. Beberapa minggu kemudian aku mulai berusaha untuk melupakan kata-kata Andra, tapi waktu kudengar minggu ini Doni akan pulang ke Indonesia, harapan kembali muncul. Doni adalah orang yang baik. Semenjak Andra mengenalkanku dengannya, ia begitu perhatian padaku. Bahkan pernah sekali ia mengatakan suka padaku, tentu saja tak pernah kuanggap serius karena ia memang orang yang jarang serius. Oleh karena itu, aku tak sungkan untuk segera menemui Doni dan menceritakan semuanya kepadanya. Kukatakan padanya untuk menemui Andra begitu tiba di Indonesia dan memberi kabar padaku lewat email.

Aku hanya bisa terus berdoa semoga Andra baik-baik saja. Kuteruskan ritual memotret wajah setiap sore. Wajah kecemasan yang kutangkap kini telah berubah menjadi wajah kebingungan, sampai suatu hari aku membuka email dari Doni.

Dear Eva,
Aku tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan semua ini, aku tahu ini akan berat bagimu. Syukurlah Andra di sini baik-baik saja, kesehatannya terjaga. Namun ada satu hal yang kurang menyenangkan bagimu. Saat aku datang ke sini, Andra sudah bersama wanita lain, istrinya. Ia bilang ia merasa sangat bersalah padamu, makanya ia menghilang dan tidak menepati janjinya. Ia juga berpesan agar kau tidak menunggunya atau mencarinya lagi. Aku hanya berharap semoga kamu bisa memaafkan sahabatku itu.
Doni.

Kepalaku mendadak pening, seolah terjadi gempa dahsyat di seluruh negeri. Segera kumatikan komputer, lalu aku duduk lemas di atas tempat tidurku. Kuambil kamera dan kupotret setiap detik momentum di wajahku. Setiap kerutan di sudut bibir, setiap gurat merah di muka kulit, setiap tetes air mata yang mengalir pelan di pipiku. Tak ada satupun yang terlewat. Biar kuabadikan momentum ini, wajah kesedihan. Aku tahu aku tak bisa percaya begitu saja pada Doni, tapi hanya itu satu-satunya kabar yang kudengar.

Tiba-tiba muncul sebuah pikiran dalam kepalaku. Kucetak semua foto wajahku yang kupotret sejak kepergian Andra, lalu kukumpulkan. Foto yang penuh dengan wajah gelisah dan cemas, pikirku. Akan kuberikan foto-foto ini kepada Andra secara langsung. Aku ingin ia melihat perubahan wajahku setiap harinya. Aku ingin ia melihat apa yang telah diperbuatnya, walaupun bila seandainya aku memang harus melupakannya.

Dengan hati yang masih kacau aku ditemani Raras berangkat ke Indonesia. Dalam perjalanan, berkali-kali Raras mengingatkanku agar jangan terlalu percaya dulu pada cerita Doni. Menurutnya, Doni bisa saja berbuat licik untuk menjauhkan aku dan Andra, karena siapa tahu Doni pernah benar-benar menyukaiku tapi merasa ditolak. Aku hanya bisa mengira-ngira saja, kalaupun memang Doni berbohong, kenapa Andra melanggar janjinya padaku?



-- Guten Abend


“Nama saya Andra. Saya bekerja sebagai seniman dan fotografer semenjak lulus kuliah. Meskipun sudah tak memiliki orangtua dan belum berkeluarga, hidup saya berjalan dengan cukup baik dan bahagia. Namun, kira-kira tiga minggu yang lalu, saya divonis memiliki HIV positif. Waktu itu, hidup saya terasa mau runtuh, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan. Yang saya ingat, setahun yang lalu sebelum saya pergi ke Jerman, saya sempat melakukan ekspedisi ke pedalaman Afrika untuk memotret kehidupan suku pedalaman. Di sana saya mengalami suatu kecelakaan dan terpaksa menerima tansfusi darah darurat. Sekarang, keberaaan virus ini memang bukan salah saya, tapi juga bukan salah siapapun. Saya tak ingin menyalahkan siapapun dan hanya bisa menerima saja. Setelah beberapa lama terlarut dalam kebimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berhenti berkarya. Bagi saya, Tuhan memberikan suatu peringatan kepada saya bahwa hidup ini bisa berakhir kapan saja –untuk siapapun, pengidap HIV atau bukan. Maka saya bertekad untuk memanfaatkan setiap tarikan nafas saya mulai saat ini dengan sebaik mungkin. Saat ini, saya mulai menjalani terapi antiretroviral dan saya masih baik-baik saja. Saya harap teman-teman juga tetap bersemangat menjalani hidup, dan tidak pernah berhenti berkarya.”

Tepuk tangan dan riuh sorak para hadirin menggema di ruangan yang cukup besar itu. Tak terasa, air mataku mengalir seperti anak sungai. Raras yang duduk di sampingku merangkulku dan berusaha menenangkan diriku. Tak pernah kubayangkan kami akan sampai di sini dan mendengar ucapan itu dari mulut Andra sendiri. Saat kami sampai di Indonesia, kami mendapat informasi dari teman-teman seprofesinya bahwa ia akan menghadiri sebuah acara seminar mengenai AIDS. Lalu kami pun menghadiri acara itu. Waktu itu aku tidak habis pikir kalau hal seperti ini yang akan terjadi.

Aku menghampiri Andra setelah acara selesai. Waktu melihatku, terlihat perubahan suasana di wajahnya. Seperti perpaduan antara rasa takut, sedih, dan kerinduan yang menjadi satu.

“Maaf, Eva...,” ucapnya tanpa berani menatap mataku secara langsung.

Aku menarik nafas berusaha menenangkan diri, “Aku sudah dengar ceritamu. Apakah itu artinya kata-kata Doni tidak benar?”

“Soal apa?” Tanyanya heran.

“Bahwa kau sudah menikah dengan wanita lain?” walau aku tahu jawabannya, tapi hatiku masih berteriak meminta konfirmasi.

“Eva, wanita yang ingin kunikahi adalah kamu, tak ada yang lain. Tapi..., aku tak ingin merusak kehidupanmu dengan keadaanku yang sekarang,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak menepati janjimu untuk datang? Setidaknya kamu bisa menanyakannya kepadaku sekali lagi! Apakah kamu tidak tahu kalau aku sudah menyiapkan jawaban untukmu?” ucapku setengah berteriak.

Kubiarkan air mata yang kembali mengalir deras di wajahku. Kulihat mata Andra semakin basah dan sepertinya ia menahan diri agar tidak menangis. Kulihat gerakan nafas di tubuhnya yang berdenyut mencari ketenangan, seperti ada dua arus yang saling bertabrakan di dalam sana.

“Memangnya, setelah kau tahu aku memiliki HIV positif, kau mau menikah denganku...?”
Mendengar pertanyaanya, tiba-tiba saja kurasakan sebuah ombak besar yang menghantam setiap batu karang di jiwaku. Kemudian ombak itu berubah menjadi pusaran air raksasa yang menyedotku ke dalamnya dan meremukkan setiap inci tulang-tulang di tubuhku. Dadaku sesak. Jawaban bulat yang seolah sudah mengendap kuat di dalam dada, kini lumer dan membuatku kembali bimbang.

Pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan kutanyakan, kini muncul tiba-tiba. Akankah aku menikah dengannya? Kalau aku menikah dengannya, bagaimana dengan keluargaku? Selama ini mereka memang sangat liberal dalam menentukan calon pasangan anak-anaknya, tapi tak ada satu rekor pun yang menyatakan bahwa dalam anggota keluarga Fritz ada yang pernah menikah dengan pengidap AIDS! Terutama ayahku, ia adalah orang yang tegas. Ia menghargai keputusan anaknya dalam mengambil jalan hidupnya masing-masing, tapi ia juga tak segan-segan untuk memberikan sanksi. Mungkin ia akan mengusirku, tidak mengizinkan aku menginjakkan kaki di rumahnya lagi. Lalu aku akan tinggal bersama Andra. Berdua saja. Andra adalah seorang yatim piatu, dan aku ragu apakah kami akan memiliki keturunan bila menikah nanti. Lalu, aku mungkin akan kesepian tinggal di negeri orang. Dan satu rasa takut yang menggores perasaanku adalah, apabila suatu saat tubuh Andra dan obat-obatan yang terbatas tak lagi mampu menahan penyakit AIDS di tubuhnya. Pada titik itu aku mungkin akan ditinggal sendirian.

Terpikirkan dalam benakku untuk meninggalkan semua ini. Aku mungkin bisa saja melupakan Andra, tidak berkomunikasi dengannya lagi. Tapi aku tak sanggup membayangkan Andra hidup sendirian. Aku tahu ia mencintaiku, dan kalau seandainya ia tidak memiliki virus itu di dalam tubuhnya, semua ini pasti akan berjalan dengan lancar. Aku tahu kalau hal ini bukanlah kesalahannya. Picik sekali bila aku meninggalkannya karena tak mau menerima dia apa adanya.

Kebingungan itu terus hinggap dan terus kubawa kemanapun aku pergi, seperti bandul berat yang selalu menggelayuti pundakku. Ada sebuah lubang penyesalan di dalam dada ini, kenapa aku tidak menjawab pertanyaan Andra yang terakhir itu. Aku hanya bisa diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun hingga aku kembali ke Jerman. Sebelum aku pergi dari hadapannya, aku dapat menyaksikan wajahnya yang sendu, seperti kerelaan dan ketidakrelaan yang berdiri bersebelahan. Matanya yang redup, seperti bukan sosok Andra yang selama ini aku kenal.

“Eva, sekarang semua pilihan ada padamu. Kamu punya dua pilihan utama, apakah kamu akan menikah dengan Andra yang telah divonis HIV positif, atau kamu akan melupakan semua itu dan tidak akan mengambil resiko apapun,” ujar Raras memperjelas keadaan.

“Aku tidak tahu, Ras. Kalaupun aku memutuskan untuk tetap menikahinya, bagaimana dengan orangtuaku? Apakah mereka mau menerimna Andra?” Tanyaku semakin gusar.

“Dalam hal itu kamu lagi-lagi punya dua pilihan. Pertama, kamu menikah dengan Andra tanpa memberitahu keluargamu tentang penyakit yang diderita Andra saat ini. Resikonya, suatu hari nanti cepat atau lambat, keluargamu pasti akan menyadari juga keadaan suamimu. Pilihan kedua, kamu jujur pada keluargamu, kamu meminta restu pada mereka. Resikonya, tentu saja apabila mereka tidak merestuimu atau malah mengusirmu dari keluarga.”

Aku membayangkan semua kemungkinan yang ada. Ini adalah pilihan terberat dalam hidupku. Setiap hari aku tidak berhenti berdoa, semoga saja aku mendapat jalan keluar dari masalah ini. Hingga pada suatu malam, masih dengan pikiran yang kalut, aku merasa harus mengambil satu keputusan yang pasti.

Dengan disesaki lantunan musik Mozart yang biasa kudengar dari komputerku, kuperhatikan lagi semua foto wajah yang tidak jadi kuberikan pada Andra. Kutempel semua foto-foto itu di dinding kamarku secara kronologis. Foto pertama yang kuambil setelah mengantar kepulangan Andra, sampai foto terakhir yang kuambil sepulang dari Indonesia setelah mengetahui penyakit yang diderita Andra.

Lihatlah Andra, apa yang telah kauperbuat pada wajahku dalam beberapa bulan terakhir ini? Gumamku dalam hati. Hampir semua foto wajah yang kutempel di dinding kamarku adalah wajah dengan nuansa suram. Kalau bukan kegelisahan, kecemasan, ketakutan, pastilah kekecewaan. Suasana suram itu ikut menyusup ke dalam hati dan pikiranku. Kalau yang ia perbuat selama ini hanya membuat hidupku jadi suram, mungkin sebaiknya aku melupakannya saja. Seolah melupakan kenangan-kenangan manis yang kurasakan bersamanya saat ia masih di Jerman, keadaan sekarang yang jauh berbeda membuat keyakinanku pudar. Auf Wiedersehen, selamat tinggal.

Kucopoti foto-foto itu dari dinding kamarku dengan hati yang sesak namun kupaksakan untuk merasa lega. Tapi tiba-tiba tanganku berhenti mencopoti foto-foto itu ketika kusadari ada sebuah foto wajah yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Foto wajah pada hari ke-29 semenjak Andra pulang, satu hari menjelang hari yang dijanjikan. Dapat kusaksikan senyuman lebar pada bibirku di foto itu. Aura cerah penuh harapan dan kegembiraan yang belum pernah kulihat di foto manapun juga. Sangat kontras dengan foto-foto wajah sebelum dan sesudahnya, ini adalah foto dengan senyuman paling bahagia yang pernah kusaksikan sendiri. Aku tertegun. Perlahan mataku menjadi basah. Inikah isi hatiku yang sesungguhnya? Inikah keinginan nuraniku yang sesungguhnya? Mataku tak bisa lepas dari foto itu.



--Paradies


“Hei lihat, itukah rumah kita?” ucapku sambil menunjuk sebuah rumah mungil di atas tanah Belanda yang datar.

“Iya, karena kita cuma tinggal berdua makanya sengaja kupilihkan rumah yang mungil saja,” jawab Andra sambil membuka pintu pagar dengan kunci yang dipegangnya.

“Hmm..., walaupun mungil tapi sangat indah,” ucapku pelan.

“Silakan masuk, Nona Eva,” ucap Andra sambil berlagak bak seorang pelayan kerajaan.

Aku segera masuk ke halaman rumah sambil mencubit perutnya ketika melewati pagar. Ia menjerit kecil sambil balas mendekapku. Gelora pangantin baru memang sulit dihindari, bahkan bagi kami yang menjalani pernikahan yang sedikit beresiko ini.

“Rumah sepupuku tidak jauh dari sini lho...,” ujarku.

“Sepupumu yang menikah dengan orang Belanda itu?” tanyanya.

“Iya. Setelah menata barang-barang, bagaimana kalau kita mengunjunginya?” Tanyaku sambil merangkul tangannya.

“Ide yang bagus!”

Kemudian aku duduk di kursi kecil di teras rumah, sementara Andra memeriksa barang bawaan kami. Kuamati pohon-pohon yang tumbuh rapi dan berbaris sejajar, seperti sudah diatur saat menanamnya.

“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka sama sekali tak menghubungi semenjak pernikahan kita?” Tanya Andra sambil memindahkan sebuah kardus kecil.

“Seperti yang kau tahu, ayahku menepati janjinya. Sebagaimana yang ia katakan kepada kita berdua, bahwa ia merestui pernikahan kita dengan satu sanksi, kita tidak boleh tinggal di Jerman, ia tidak mau berurusan dengan kita,” jawabku dengan nada yang lebih serius.

“Aku masih ingat kata-kata itu,” ujar Andra dengan suara yang sedikit berat.

“Tenang saja. Seperti prediksi Raras, kata ibuku, cepat atau lambat sikap ayah pasti akan berubah. Ia hanya butuh waktu untuk berpikir,” ucapku disertai sebuah senyuman.

Perlahan, Andra berjalan ke arahku dan memeluk tubuhku dari belakang. Dapat kurasakan kehangatannya yang tak hentinya membuatku merasa nyaman.

“....dankeschön,” ucapnya pelan, hampir berbisik di telingaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar tanpa tahu harus menanggapi bagaimana. Meskipun awalnya ini adalah pilihan yang sulit, tapi aku yakin sekarang kalau memang inilah yang aku inginkan.

“Oh ya, foto ini bagaimana kalau kita pajang di kamar saja?” Tanya Andra tanpa melepaskan pelukannya.

Kulihat foto yang ada di tangannya. Ternyata itu dia, ‘foto hari ke-29’, foto ajaib yang telah membuatku berada di sini sekarang. Mungkin terdengar seperti cara konyol untuk membuat keputusan, tapi aku percaya bahwa peristiwa satu detik bisa sama pentingnya dengan peristiwa sepanjang masa.

“Ini adalah momentum, Sayang. Ini adalah foto dari sebuah momentum kebahagiaan,” ucapku.

“Kamu benar, tapi detik ini juga momentum. Hanya saja, momentum ini hanya bertahan sebentar. Kalau abadi, pasti inilah surga,” ucapnya lembut sambil mengecup pipiku.

------------------------
Note:

Paradies: surga, firdaus;
Schnee: salju;
Sonnenuntergang: fajar;
Gutten Morgen: selamat pagi;
Wie geht’s?: apa kabar?;
Gut: baik;
Künstlerhäuser: rumah seni;
Ich hab liebe dich: aku sayang kamu;
Was meinst du...?: apa artinya itu?;
Mittags: siang hari;
Guten Abend: selamat malam;
Auf Wiedersehen: selamat tinggal;
dankeschön: terima kasih banyak;

Blog EntryBLOG BARU!! KomikMay 14, '08 7:42 PM
for everyone
Teman-teman, mulai sekarang karya-karya komik saya masukkan ke blog baru.

Alamatnya di:

http://mukakotak.blogspot.com

Dengan demikian, Langit Kalbu ini akan berjalan sebagai mana mestinya, mohon maaf apabila terjadi ketidaknyamanan.

Blog EntryDi Toko BukuMay 14, '08 5:07 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryAsal Mula Rambut EmoMay 14, '08 5:06 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryAzab-Azab Cinta 2May 14, '08 5:05 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us


Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryAzab-Azab Cinta 1May 14, '08 4:47 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryOrang Gila! Orang Gila!May 12, '08 3:35 PM
for everyone
Tadi pagi saya ingin nangis, tapi saya tahan. Saya lagi di warung, makan bubur kacang ijo, di TV ada sinetron Kangen Band. Kalau saya nangis, orang-orang bakal salah sangka, dikiranya saya nangis karna nonton Kangen Band, padahal bukan. Makanya saya tahan.

Di kampus, orang2 seperti biasanya bertingkah konyol, bakal aneh kalo saya nangis.

Saya seperti jeruk busuk. Jeruk busuk yang saya lukis, dan hari ini saya melukis jeruk busuk dengan penuh perasaan. Ah, jeruk busuk memang estetik. Jeruk kok ngelukis jeruk?

Patah hati. Atau lebih tepatnya sadar di ambang waras. Itu bikin saya berenti nulis postingan cerdas di blog ini, bikin saya nulis cerita curhat di blog yang ngga saya harapkan untuk jadi media curhat yang cengeng. Maafkan saya, Langit Kalbu, hari ini kamu mendung sekali, hari ini kamu bodoh sekali. Beberapa hari ini, saya jadi seratus ribu kali lebih puitis dari biasanya, tapi saya malah nggak mampu nulis puisi. Sinting.

Oh, Rommy Rafael, hipnotislah saya. Buatlah saya lupa.

Oh, Alien, culiklah saya. Cuci otak saya.

Oh, Doraemon.....

Oh, Dragon Ball....

Oh, lampu ajaib....

Saya pernah tes di beberapa tes psikologi di internet, dan katanya saya punya sedikit gangguan jiwa. Apa istilahnya, saya lupa. Mungin memang benar. Ah, saya agak gila. Itu artinya saya bisa jadi seniman terkenal. Seniman yang terkenal dan kaya raya. Seniman gila yang terkenal dan kaya raya. Seperti Van Gogh yang melukis bunga matahari sampai mati bunuh diri. Siapa yang tidak suka seniman gila?

Orang bilang, patah hati bikin lapar.

Iya, saya jadi lapar. Lapar wanita. Kalau saya harimau, saya pasti sudah menerkam banyak wanita hari ini. Saya tau saya tampan. Wahahaha....

Empat tahun perjuangan saya, harus berakhir di sini. Setidaknya saya pikir kalau secara logis dan waras, ini mesti diakhiri. Kalau tidak, saya bakal gila beneran.

Pernah nggak kalian merasa sedang berada di sebuah padang pasir, kalian berlari untuk meraih sebuah bendera di ujung sana. Kalian berlari, sekuat tenaga, berkali-kali jatuh dan bangun lagi. Seluruh hidup kalian dihabiskan untu berlari. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, nggak ada lagi yang kalian pikiran. Dan ketika kalian hampir sampai untuk meraih bendera itu, ternyata bendera itu hanya fatamorgana.

Sekarang apa yang akan kalian kejar? Mencari bendera lainnya?

Kalau saya bukan orang Islam, saya sudah mabuk2an semalam.

Kalau saya bukan orang baik-baik, saya sudah cari pelacur semalam.

Kalau saya bukan orang sadar, saya sudah bunuh diri.

Hei, tentu hal itu nggak mungkin. Saya masih sadar, makanya masih bisa nulis tulisan gila ini. Sedikit hiperbolik memang.

Tapi saya bilang, jeruk busuk itu estetik.

Menanam pohon jeruk yang baru memang butuh waktu, tapi saya masih punya banyak waktu, setidaknya sebelum saya menerkam seseorang di jalan hari ini..


Blog EntryMurfy: Di Toko BukuMay 11, '08 1:30 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryMurfy: Azab-Azab Cinta 2May 11, '08 1:26 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us


Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryMurfy: Asal Mula Rambut EmoMay 11, '08 12:54 AM
for everyone
Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntryDear, WanitaMay 4, '08 1:12 PM
for everyone

Dear, Wanita

Yang pernah bilang ingin kunikahi

Dear, Wanita

Yang pernah bilang ingin bersamaku di hari nanti

Dear, Wanita

Yang pernah bilang merasa nyaman saat dekat denganku

Kenapa aku selalu pada posisi

Dimana aku ditinggal sendiri

Dan kau ada berdua?

Kenapa aku selalu pada posisi

Dimana aku ditinggal sendiri

Sesungguhnya aku pernah berkorban

Banyak perasaan

Aku hanya berharap

Kamu juga bisa berkorban

Bukan aku yang dikorban

Dear, Wanita

Yang jadi cita-citaku di hari tua

Perasaan memang datang dan pergi

Dari perasaan ada yang lebih utama

Itu adalah keinginan

Apakah kamu punya

Keinginan?

Kalau kamu terus berputar

Lingkaran ini takkan pernah berakhir

Tapi aku akan ikut berputar bersamamu

Aku ikut berputar bersamamu!

Perasaanmu yang berputar-putar

Dear, Wanita

Yang pernah bertanya suatu hari nanti kita akan punya anak berapa

Sesungguhnya aku selalu curiga

Di saat kamu diam

Kamu hanya terlalu takut untuk bicara

Dan disaat kau bilang kau relakan aku pergi

Padahal cuma kamu yang ingin pergi

Dan disaat kau bilang aku barang langka

Aku tiada gantinya

Tapi untuk apa?

Meski ini bukan pertama kalinya kau pergi

Dan jalan masih panjang

Semoga bukan terakhir kali kau kembali

Aku hanya ingin mewujudkan sebuah impian

Dear, Wanita

Yang pernah bilang kalau aku adalah yang terbaik untuknya

Sesungguhnya aku masih terus membanggakanmu

Sesungguhnya aku masih terus membanggakanmu

Bandung, 4 Mei 2008


Blog EntryMurphy 001: AAC1Apr 29, '08 6:09 PM
for everyone
Nyoba masukin komik... mgkin bakal dilanjutin

Image Hosted by ImageShack.us

Blog EntrySalah Kaprah Kesetaraan GenderApr 21, '08 9:46 PM
for everyone


Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Perjuangan para wanita dalam melawan budaya patriarki dan mewujudkan emansipasi seringkali disalahartikan. Tentu saja saya juga mengakui banyak terjadi ketidakadilan terhadap perempuan dalam masyarakat, banyak terjadi eksploitasi terhadap perempuan demi kepentingan politik maupun bisnis. Tapi layaknya kodrat perempuan yang katanya lebih banyak memakai emosi dibanding rasio, gerakan feminisme yang ekstrim pun terasa amat emosional daripada rasional. Kadang mereka-mereka itu (saya tidak menyebut semua perempuan, karena memang tidak semua perempuan setuju dengan ide mereka) terlihat seperti memberontak membabi buta. Apapun yang terlihat seperti superioritas laki-laki, mereka lawan, mereka anggap salah. Sampai-sampai ada saja yang menyalahkan agama, menyalahkan Tuhan (mungkin bagi mereka Tuhan itu tidak adil), menyalahkan lembaga pernikahan, dan macam-macam.

Pada fitrahnya, perempuan dan laki-laki adalah berbeda, memiliki peran yang juga berbeda, tidak mungkin disamakan. Meski begitu, keduanya memiliki derajat yang setara, masing-masing tidak lebih mulia dari yang lain.

Coba bayangkan jika suatu saat muncul gerakan ‘maskulinisme’. Kaum maskulinisme yang selalu mempertanyakan mengapa kaum adam tidak bisa hamil dan melahirkan anak. Kaum maskulinisme yang selalu mempertanyakan kenapa perempuan bisa santai-santai di rumah nonton telenovela, sementara laki-laki harus kerja di luar membanting tulang untuk membiayai hidupnya. Kaum maskulinisme yang selalu protes kenapa perempuan harus diberi tempat duduk saat bis yang dinaikinya penuh. Atau kaum maskulinisme yang selalu gerah saat kontes kecantikan lebih banyak daripada kontes ketampanan.

Jangan salah paham buat para perempuan yang membaca tulisan ini, saya adalah laki-laki yang amat menghormati perempuan. Tapi apakah kalian sudah cukup menghormati diri kalian sendiri? Seringkali terjadi keanehan dalam apa yang mereka (feminis-ekstrimis) sebut sebagai ‘kesetaraan geder’. Konsep penyetaraan gender yang diusung oleh perempuan-perempuan yang sesat adalah seperti berikut:

Ideal: Perempuan harus sederajat dengan laki-laki

Fakta: Laki-laki bajingan

Simpulan: Maka, perempuan juga harus bajingan supaya sederajat dengan laki-laki

Begitu bukan?

Baik, mari saya beri contoh yang lebih konkrit lagi berdasarkan pernyataan-pernyataan yang mungkin pernah kita dengar di majalah, surat kabar, bahkan novel sastra.

1) Fakta: Laki-laki banyak yang sudah tidak perjaka lagi. Keperjakaan laki-laki jarang dipermasalahkan masyarakat. Masyarakat hanya mempermasalahkan keperawanan wanita. Itu tidak adil. Wanita yang sudah tidak perawan sebelum menikah akan mendapat tanggapan negatif, sementara laki-laki yang sudah tidak perjaka akan dianggap biasa-biasa saja.

Simpulan dungu: Berarti perempuan rugi dong, kalau menjaga keperawanannya. Toh, lelaki aja nggak pada menjaga keperjakaannya. Curang namanya, keenakan laki-laki aja. Oleh karena itu, wahai para perempuan, janganlah lagi kalian terlalu mengangung-agungkan keperawanan, itu hanya alasan untuk mendiskreditkan perempuan!

Emosional? Kemerosotan intelektualitas? Tentu saja. Hal ini sempat diusung oleh satu (atau beberapa) tokoh pergerakan perempuan. Konyol kan?

Simpulan waras: Berarti laki-laki juga harus dituntut atas keperjakaannya. Curang namanya kalau hanya perempuan yang dituntut harus menjaga keperawanan sebelum menikah, laki-laki juga harus menjaga keperjakaannya. Itu baru adil, jangan berat sebelah!

Nah, kesimpulan di atas JELAS lebih normal.

2) Fakta: Tanggapan masyarakat terhadap pornografi dan pornoaksi selalu menuding perempuan. Perempuan berpakaian minim, perempuan bergoyang erotis. Padahal perempuan-perempuan melakukan semua itu juga atas kedoyanannya laki-laki. Padahal laki-laki semuanya demen melihat yang seperti itu. Kenapa perempuan yang harus disalahkan? Padahal laki-laki juga biang keladinya.

Simpulan dungu: Ayo wahai perempuan, kita lawan semua yang menyudutkan kita! Mari kita ramai-ramai memakai baju minim dan bergoyang erotis, itu hak asasi kita! Buka salah kita kalau laki-laki macam-macam, memang mereka saja yang otaknya ngeres! RUU anti pornografi dan pornoaksi mendiskreditkan perempuan, kita tolak saja!

Simpulan waras: Bukan perempuan saja yang mesti menjaga penampilan, laki-laki juga harus menjaga kelakuan! RUU harus direvisi, supaya tidak berat sebelah! Harusnya laki-laki lebih dibatasi agar mereka tidak dapat mengeksploitasi perempuan untuk kepentingan hiburan mereka. Para perempuan juga jangan mau menuruti kemauan para hidung bilang itu, karena perempuan akan selamanya jadi pelayan laki-laki selama perempuan menurutinya. Berantas majalah pria dewasa yang menjadikan perempuan sebagai objek hiburan! Berantas segala hal komersial yang memanfaatkan sensualitas perempuan! Perempuan bisa berkarya tanpa melacurkan tubuhnya untuk santapan lelaki.


Oke, sebenarnya masih banyak contoh-contoh lain yang bisa diambil sebagai sebuah kesalahpahaman tentang makna kesetaraan gender, tapi terlalu membosankan kalau dilanjutkan. Lho, apakah itu artinya yang kita butuhkan sebenarnya adalah emansipasi laki-laki, bukan emansipasi perempuan? Pada dasarnya tetap sama saja. Menyetarakan laki-laki dan perempuan (menyetarakan, bukan menyamakan) adalah membuat keduanya sejajar pada posisi yang mulia. Buat apa perempuan yang lebih mulia menyamakan diri dengan laki-laki yang rendahan? Mau ikut-ikutan jadi bajingan? Kebodohan sejati itu namanya. Harusnya laki-laki rendahan yang menyetarakan dirinya dengan perempuan yang lebih mulia. Sederhana kan?

Ah, atau mungkin saya cuma berpikir terlalu dangkal? Jangan-jangan mereka punya maksud implisit yang tidak seburuk apa yang mereka ucapkan. Mungkin saya harus mengutip kalimat remaja putri SMA yang baru diselingkuhi pacarnya:

“Sialan! Emangnya dia kira dia doang yang bisa selingkuh? Gue juga bisa! Gue juga bisa selingkuh! Gue akan selingkuh, biar dia tau gimana rasanya diselingkuhin. Biar dia sadar kalau dia salah. Biar dia tau gimana sakitnya perasaan gue! Gue mau dia sadar dan berubah, gue mau dia nggak ngelakuin hal itu lagi!”

Mungkin itulah yang mereka pikirkan. Sengaja melakukan hal-hal salah yang kalian sudah tahu itu salah, hanya sebagai sebuah protes agar para lelaki sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah?

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan salah paham dengan tulisan ini. Saya amat menghargai wanita. Berhubung saya bukan gay, tentu saya menyukai wanita dan berencana untuk menikahi seorang wanita juga. Dan saya harap istri saya kelak tak perlu protes kenapa saya musti jadi kepala rumah tangga, sebagaimana saya tak perlu protes kenapa surga musti ada di telapak kaki ibu (bukannya di telapak kaki saya). Partner adalah partner, pembagian tugas sesuai kodrat masing-masing.

Di sisi lain, banyak laki-laki tidak bertanggung jawab, yang justru lebih buruk dari contoh-contoh di atas. Mereka bilang dimana-mana: di forum internet, obrolan curhat, dll, mereka kecewa karena pacar mereka sudah tidal perawan. Mereka kecewa karena mereka tidak bisa memerawani pacar mereka karena sudah diperawani lebih dulu oleh mantan pacarnya. Mereka ingin mendapatkan istri yang masih suci sementara mereka sendiri sudah tidak perjaka, sudah melacur sana-sini.

Hei bodoh!

Emangnya kalian kira yang bikin pacar kalian jadi kehilangan keperawanan tuh siapa? Terong busuk di tukang sayur?

Ya enggaklah. Laki-laki macam kalian itu. Biang kerok.


Blog EntryPencekalan Dewi Persik dan Kebebaan SeniApr 18, '08 12:18 AM
for everyone

Childish Dewi

Saya secara pribadi bukanlah seorang penggemar infotainment, apalagi pemburu kehidupan para selebritis. Meski begitu, bukan berarti saya tidak pernah menontonnya. Banyak warteg dan rumah makan yang gemar sekali meyetel acara-acara tersebut pada jam makan saya (selain sinetron). Saya saksikan lagak dan kelakuan para artis (mengenai pantas tidaknya mereka disebut artis [artist=seniman] akan saya coba bahas di tulisan lain) yang kadang lucu, tapi lebih sering memuakkan dan menjengkelkan.

Satu berita yang kali ini sedang ramai dan hangat, tidak hanya di media gosip dan pergunjingan, tapi juga bahkan di koran-koran nasional, adalah aksi pencekalan Dewi Persik oleh beberapa walikota. Awalnya saya bersama ibu saya melihat sebuah berita bahwa Dewi Persik telah dicekal oleh walikota Tangerang, karena memamerkan aurat dan mempertujukkan gerakan erotis. Waktu itu saya dan ibu saya (dan mungkin juga ribuan pemirsa yang lain) ramai-ramai bergumam, “rasain lo!” sambil tersenyum puas pada wajah Dewi di layar kaca. Kami sepakat bahwa tarian dan penampilan Dewi Persik, tidak pantas untuk ditonton, dan itu karena ia sama sekali tidak memberi hiburan yang positif kepada masyarakat. Tentu saja Dewi bukanlah satu-satunya, dan mungkin bukan yang paling parah, tapi apa boleh buat, soalnya dia yang kebetulan waktu itu muncul di TV.

Suasana di depan TV menjadi semakin panas ketika wartawan infotainment menanyakan tanggapan Dewi Persik atas pencekalan dirinya. Dengan bahasa yang seolah dibuat sopan dan kekanakan (tapi buat saya malah menjijikan), ia megucapkan kata-kata sombong dan arogan, termasuk menakut-nakuti Walikota Tangerang dengan menyebutkan sebuah inisial nama, yang menurutnya adalah orang berpengaruh.

Sh*t! Rupanya perempuan itu mau main mavia. Walau gertakannya kemungkinan besar adalah gertak sambel, tapi tetap saja menyebalkan.

Tapi beberapa hari kemudian, gertak sambelnya itu hilang-redup-lenyap-hambar, setelah Walikota Bandung ikut-ikutan mencekal dirinya. Sikap arogannya berganti dengan wajah yang khawatir. Mungkin ia baru menganggap serius masalah ini sekarang, mungkin ia takut dengan perkembangan karirnya. Ironis memang.

Motif Politik?

Tadi siang saat makan di RM Padang, saya kembali mendengar berita kalau Walikota Bekasi diindikasikan akan ikut mencekal Dewi Persik. Memang belum ada kepastian mengenai hal itu, tapi ini adalah serangan beruntun terhadap Dewi Persik. Lama-lama, saya malah jadi curiga dengan sikap para walikota yang tampak latah mencekal Dewi. Adakah tujuan politik di belakangnya? Saya rasa, besar kemungkinan. Mengingat sebentar lagi pemilihan gubernur/walikota, sangat nampak bila mereka berusaha mencari simpati masyarakat (terutama masyarakat religius dan orangtua) agar mendapat dukungan pada pemilihan nanti. Dalam hal ini, bisa dikatakan kalau Dewi menjadi korban. Meski demikian, saya tetap setuju dengan pencekalan tersebut terlepas dari motivasinya.

Teori Seni dan Norma Masyarakat

Banyak orang-orang yang merasa puas saat mendengar berita pencekalan Dewi, terutama ibu-ibu (dari sini kita bisa melihat bahwa Dewi bukanlah idola para ibu). Namun, di lain sisi, ada pula pembelaan yang datang atas nama seni dan kebebasan berekspresi.

“Tuh kan, orang-orang jaman sekarang, apa-apa aja dibilang seni. Maksiat juga dibilang seni,” ucap ibu saya saat menonton TV.

Dalam hati, saya agak sedikit khawatir. Khawatir kalau-kalau saya yang sedang kuliah di jurusan senirupa dianggap memiliki pemahaman yang sama tentang semua itu. Tapi tenang saja, meski saya berkali-kali melihat lukisan telanjang di buku-buku pelajaran, dan belajar mengenai teori-teori seni, tidak berarti saya sependapat dengan mereka. Sampai detik ini, saya tetap tidak sependapat dengan otonomi seni (pendapat Barat) yang dikatakan mampu melepaskan diri dari berbagai norma (termasuk norma agama). Buat saya, seni adalah sebuah kegiatan, yang seperti halnya kegiatan lain, harus diisi oleh tanggung jawab dan kepatuhan terhadap kepercayaan dan prinsip hidup sang seniman. Apabila seorang seniman beragama Islam, maka hendaklah ia tidak membuat karya seni yang bertentangan denga ajaran Islam. Apabila seorang seniman beragama Kristen, maka hendaklah ia tidak melanggar kepercayaannya itu.

Oke, mungkin masalah ketaatan adalah masalah personal. Seorang muslim bisa saja membuat lukisan telanjang atau bahkan erotis, dan memajangnya di sudut kamar. Dalam hal ini, tidak mungkin FPI menggerebek rumahnya atau walikota mencekal namanya. Tapi, perlu diingat, saat karya seni tersebut ditempatkan di ruang publik, maka masalah norma tadi sudah bukan lagi masalah personal. Di ruang publik terdapat berbagai cara pandang, berbagai prinsip dan keyakinan, dan seorang seniman tidak bisa mengacuhkan semua itu. Seorang seniman yang baik adalah seniman yang bertanggung jawab terhadap karyanya, yang tahu dan mempertimbangkan pengaruh apa yang akan ia bawa ke tengah masyarakat.

Dalam hal pelayanan, seni tidak lagi menjadi aplikasi ritual keagamaan. Meski begitu, dalam hal derajat dan nilai, seni tetap berada di bawah agama, agama di atas seni. Tidak mungkin seni dan agama dapat dipandang sejajar, sehingga keduanya saling berdiri sendiri. Seni dibuat oleh seniman, yang terikat oleh sistem kepercayaan dan agama yang dianutnya. Secara tidak langsung, seni harus patuh kepada aturan agama, minimal agama yang dianut sang seniman, dan juga agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat dimana seni itu dipertunjukkan. Jadi amat wajarlah apabila saat lukisan telanjang Anjasmara dipertunjukkan di ruang publik, disambut oleh gelombang protes masyarakat.

Menurut Aristoteles, terdapat empat tingkatan pengetahuan (level of thoughts), dari yang paling rendah:

-Level of science

-Level of mathematic (ilmu pasti)

-Level of philosophy

dan yang paling luhur adalah

-Level of religion (agama)

Dengan demikian, seni tidak bisa dijadikan justifikasi atau pembenaran terhadap setiap tindakan yang dianggap melanggar norma masyarakat. Marilah kita mengkritisi kembali wacana kebebasan seni yang selama ini terdapat dalam otak kita, baik kepada orang-orang yang awam tentang seni, yang masih belajar (seperti saya), atau bahkan om-om gondrong di luar sana yang sudah menjadi seniman terkenal. Para seniman, pada dasarnya tetaplah manusia yang atas izin-Nya dianugerahi keahlian di satu bidang. Maka janganlah para seniman mendewakan atau bahkan men-Tuhan-kan seni, seperti halnya dokter gigi yang tidak pernah menyembah giginya sendiri.

Hehe. :-p


Blog EntryDanny Si MencurigakanApr 8, '08 2:38 PM
for everyone

Beberapa bulan yang lalu, di depat Masjid Salman, saya bertemu dengan seorang bapak-bapak bertubuh penuh keringat, berpakaian agak lusuh, dan alas kaki yang dijinjing di tangannya. Saya agak heran ketika ia datang menghampiri saya yang sedang berjalan sendirian. Ia berkata kepada saya bahwa ia baru saja kehilangan uang di terminal, sementara ia dalam perjalanan ke Lembang. Ia menunjukkan surat keterangan kehilangan dari polisi, sambil suaranya tampak tersekat-sekat. Intinya, ia ingin meminta uang, itu saja. Merasa kasihan dan setengah percaya, saya beri dia uang seadanya.

Beberapa minggu kemudian, saat saya juga sedang berada di sekitar Masjid Salman, saya bertemu seorang laki-laki masih agak muda, memakain kaus berwarna abu-abu, dan menggendong sebuah ransel besar. Ia menghampiri saya dan bertanya, seberapa jauh Lembang dari sini. Saya bilang, masih jauh sekali, berhubung ini daerah Taman Sari. Ia juga sedang dalam perjalanan ke Lembang seperti orang sebelumnya yang saya temui. Lalu ujung-ujungnya dia pun meminta bantuan uang tunai untuk membiayai perjalanannya. Berbeda dengan orang yang saya temui sebelumnya, ia tidak terlihat kecapaian, pakaiannya tidak tampak lusuh, dan bicaranya juga santai-santai saja. Saya tidak memberinya uang, bukan karena alasan itu, tapi memang saat itu uang saya masih di ATM semua. Ia pun segera pergi tanpa membujuk saya lagi (mungkin karena tampang saya benar-benar terlihat tidak punya uang). Beberapa meter dia menjauh, saya baru ingat kalau lupa memberi tahu dia bahwa hari ini tidak ada angkot yang beroperasi, sebab supir-supir angkot sedang mogok kerja.

Untungnya, baru dua kali saya bertemu orang seperti itu. Satu kali lagi, saya pasti akan berpikir bahwa sudah muncul sebuah komplotan pencuri yang khusus mencuri barang-barang orang yang akan pergi ke Lembang.

Satu cerita lagi, seminggu yang lalu, saat saya sedang duduk sendiri sambil makan di salah satu sudut kampus, saya bertemu orang aneh lain. Laki-laki berambut gondrong sebahu dan membawa sebuah tas lumayan besar itu menghampiri saya dan mengajak bersalaman. Ia menanyakan saya kuliah dimana dan jurusan apa. Saya jawab sejujurnya dan saya tanya ia berasal dari mana. Ia bilang kalau ia lulusan teknik informatika. Ia juga bilang kalau ia adalah penyanyi, sering menjadi band pembuka konser-konser seperti Peterpan. Beberapa menit kemudian dia mengatakan kalau ia adalah pemandu wisata, tapi saat ia mencoba bicara dengan Bahasa Inggris, saya rasa Bahasa Inggrisnya termasuk pas-pasan untuk seorang pemandu. Ia bilang namanya Danny. Tanpa tanya-tanya lagi, ia menuliskan alamat rumahnya dan langsung memberikannya kepada saya.

Jl.Pasirpanjang No.XX(sensor), Cilampeni Katapang, Bandung.

Lalu ia menanyakan alamat kost saya, nomor ponsel, alamat rumah, bahkan pekerjaan orangtua saya. Kemudian ia mencatat semuanya di buku tulis yang ia bawa sejak tadi. Buku tulisnya sama dengan buku tulis saya yang saya beli di tempat fotokopi. Agak menyeramkan bukan? Tapi saya tenang-tenang saja, saya ingin lihat apa yang sebenarnya akan ia lakukan. Saya jawab pertanyaannya dengan setengah jujur (silakan definisikan sendiri apa arti ‘setengah jujur’).

“Jaman sekarang susah ya cari orang jujur?” gumamnya sambil senyum-senyum.

Haha, memang susah kalau mencari orang yang mau jujur kepada orang mencurigakan seperti Anda, gumam saya dalam hati.

Kemudian dia bercerita kalau dia baru saja bertemu dengan seorang wanita Yunani di depan kampus. Wanita itu ketakutan setelah ia ajak berkenalan sambil menanyakan alamat tinggal dan nomor teleponnya (seperti yang ia lakukan pada saya), ia menjelaskannya sambil seolah terheran-heran.

Bodoh, jelas saja dia takut, ada orang gondrong yang tiba-tiba mengajak kenalan dan bertanya macam-macam di tengah jalan di negeri orang.

Ia memperlihatkan benda yang diberikan wanita itu, sebuah brosur pameran tunggalnya di galeri CCF. Rupanya wanita Yunani itu adalah seorang seniman.

Ah, saya ingat, beberapa bulan lalu ada dua orang mahasiswa seni dari Yunani yang datang ke studio kampus saya. Saya sempat diperkenalkan dengan mereka berdua, sayang saya lupa nama mereka. Satu laki, satu perempuan. Apa jangan-jangan yang ditemui Danny adalah satu dari mereka ya?

Ia mengeluarkan sebungkus snack, dan dua kali menawari saya untuk makan snack itu. Saya tolak, sebab saya sedang makan nasi.

Tidak mau cerita lebih banyak lagi kepadanya, setelah selesai makan saya pamit pergi karena masih ada jadwal kuliah. Danny meminta saya menyimpan alamat rumahnya dan mengajak saya kapan-kapan datang ke rumahnya.

“Di rumah saya mah bebas, anggap aja rumah sendiri, mau tidur-tiduran di sana juga nggak apa-apa,” ucapnya.

Lalu ia berkata kalau ia juga akan berkunjung ke tempat saya sewaktu-waktu.

“Kita sudah jadi teman kan?” ucapnya lagi.

Damn, saya jadi teringat dengan sebuah novel Jepang berjudul In The Miso Soup, cerita tentang seorang laki-laki Jepang yang berkenalan dengan seorang turis yang tampak bersahabat, tapi ternyata adalah pembunuh berdarah dingin. Mudah-mudahan Si Danny ini bukan seorang psikopat atau pembunuh berdarah dingin. Kalau cuma salesman MLM saja, saya masih bisa bernafas lega walaupun akan merepotkan. Kalau cuma orang aneh biasa saja, masih oke. Asal jangan psikopat atau penipu ulung saja.

Dia tampak kecewa ketika saya memutuskan untuk pamit. Saya berpikir apakah dia berniat menghipnotis saya, sebab saat itu kami duduk di dekat ATM dan Bank BNI. Mungkin dia tidak berhasil karena saya terlalu tenang, atau karena saya sudah keburu pamit. Tapi siapapun dia, saya harap saya tak perlu bertemu dengannya lagi, for a good reason.

Apakah saya terlalu paranoid? Ataukah kecurigaan saya wajar-wajar saja? Setelah pulang kuliah saya menyesal kenapa memberikan nomor handphone saya padanya.

Jikalau saya bertemu lagi dengannya atau dia menghubungi saya, akan saya ceritakan lagi di blog ini.


Blog EntryFITNA Lebih Kejam Dari PembunuhanApr 7, '08 6:28 PM
for everyone

Judul utama postingan ini sebenarnya tidak benar-benar berhubungan dengan apa yang akan saya bahas. Tidak juga saya menghimbau orang-orang untuk membunuh Wilders, meskipun yang ia lakukan lebih kejam dari pembunuhan itu sendiri. Namun sudah sangat jelas bahwa yang diserang Wilders adalah Islam secara umum (bukan satu-dua orang pemeluknya). Walau ada yang bilang, sebenarnya yang diserang Wilders adalah imigran-imigran asal Timur Tengah yang semakin membludak di negaranya, buat saya itu alasan tidak masuk akal. Memangnya dia nggak punya tivi di rumahnya? Nggak pernah baca koran? Nggak pernah buka internet? Atau pikirannya terlalu cetek, sampai tidak mampu membedakan antara imigran Timur Tengah dan Islam sebagai agama? Cupu bener tuh orang.

Lagi-lagi, jelas bahwa yang ia serang adalah Islam sebagai agama. Entah apakah dia itu Islam-phobia, Xenophobia, atau apapun, dia memang layak menuai kemarahan jutaan muslim di seluruh dunia. Lagi, kalau kita melihat sejarah, dia bukanlah satu-satunya orang yang berusaha menghujat Islam. Sudah tidak terhitung jumlahnya sejak berabad-abad lalu, sampai ke tragedi 11 September yang dicurigai sebagai konspirasi itu. Fenomena yang menarik, justru setelah tragedi itu, terjadi dua arus yang saling bertolak belakang. Satu sisi masyarakat dunia merasa phobia dan menghujat Islam, di sisi lain masyarakat penasaran dan ingin mengetahui ajaran Islam lebih dalam. Tidak aneh bila kemudian kita saksikan peningkatan jumlah muallaf (orang yang baru memeluk Islam) di negara-negara Eropa –bahkan di saat pemerintah negara itu masih antipati terhadap Islam. Well, mungkin itu kabar bagus buat kaum muslimin, tapi mimpi buruk buat orang-orang seperti Wilders. Ia berusaha untuk menghentikan hal itu dan membuat arus lanjutan dari Islamophobia dengan cara yang kotor sekaligus klasik dan klise: karya ’seni’ (perhatikan, kata ‘seni’ saya apit dalam tanda kutip). Menyusul kasus karikatur Nabi Muhammad SAW yang sempat menggemparkan dulu, kini muncul Fitna –sebuah pemilihan judul yang konyol karena menjelaskan terang-terangan maksud pembuatannya. Lalu, apa respon yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum muslimin terhadap utusan Setan ini?

Wilders Minta Dibunuh

Ramainya kecaman mengenai film Fitna yang dibuat Wilders, rupanya tak segera membuat film ini dicabut dari internet. Padahal, para pemimpin dari berbagai negara (termasuk PBB) sudah mengecam, kaum muslimin sudah mengancam, para hacker menyerbu LiveLeak.com, dan pemerintah berencana memblokir You Tube. Lalu, apa sih yang ada di kepala Si Dungu Wilders ini? Ya, ia hanya mengulangi apa yang pernah dilakukan Theo Van Gogh, dan dia mungkin akan berakhir sama dengan pendahulunya itu. Dia pasti sudah tahu, dengan tindakan dungunya itu, negara-negara Islam ramai-ramai akan memasang vonis hukuman mati di atas kepalanya, tapi ia tetap mempublikasikan filmnya itu.

“Bunuhlah saya,” mungkin itu sebenarnya maksud hati Wilders.

Meski demikian, tampaknya respon yang ia terima tak sehebat yang ia bayangkan. Mungkin ia hanya dianggap sampah oleh kaum Muslimin yang menjadi targetnya. Permintaan bunuhnya (secara tidak langsung), adalah sebuah pertanyaan besar bagi kita. Akankah kita menuruti permintaannya itu? Kalau kita menurutinya, lalu apa untungnya bagi kita, dan apa untungnya bagi dia? Tidak mungkin dia tidak menyiapkan rencana apa-apa sementara ia nekat memancing kemarahan jutaan umat manusia di dunia.

Menurut saya, apabila sekarang seorang assassin membunuh Si Dungu Wilders, maka yang akan terjadi adalah kerugian bagi seluruh umat Islam. Si Wilders (yang walaupun menjadi almarhum) akan tetap mendapat keuntungan untuk memojokkan Islam, lalu ia akan mendapat simpati dunia (seperti Theo Van Gogh, seniornya), sehingga keadaan pun berbalik: dunia yang semula bersimpati pada Islam, malah akan menerima opini Wilders (mendiskreditkan Islam) yang seolah-olah telah dibuktikannya sendiri. Itulah tujuan Wilders, ia ingin menjatuhkan Islam dengan membahayakan keselamatannya sendiri: mencari simpati masyarakat dunia. Persis kaki tangan Setan.

Jadi, menurut saya, apa yang harus kita lakukan adalah dengan membuat rencana Wilders tersebut tidak jadi kenyataan. Tidak perlu melakukan serangan kekerasan terhadapnya ataupun negaranya. Jangan sampai ada ekstrimis Islam yang melakukan teror atas nama pembalasan terhadap fitna. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. Kita buktikan bahwa film Fitna, memang fitnah : isapan jempol belaka untuk orang-orang yang terbelakang seperti Geert Wilders.

Film Tandingan?

Dengar kabar, katanya MUI dan NU bersiap membuat film tandingan untuk melawan film Fitna. Film apa ya? Ayat-Ayat Cinta? Ya jelas bukan lah.... Entah film seperti apa yang ingin mereka buat, saya rasa ini ide yang cukup kreatif. Mata dibayar mata, darah dibalas darah, film dibalas film. Bukan begitu?

Tapi satu hal penting: Apalah artinya serangan balasan kalau lebih lemah dari serangan sebelumnya? Maksud saya, film tandingan itu harus benar-benar dikerjakan dengan serius dan hati-hati. Tidak bisa hanya mengandalkan emosi dan amarah massa. Harus CERDAS. Bukankah film Wilders yang bodoh hanya bisa dikalahkan dengan film yang cerdas? Kalau sampai mereka membuat film yang sama bodohnya dengan Wilders atau bahkan lebih buruk, mereka akan mempermalukan nama umat Islam Indonesia. Menurut saya, ini taruhan yang cukup beresiko. Jangan sampai mereka membuat film anarkis yang malah membuat mereka tak ada bedanya dengan Wilders.


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help