Bukannya Promosi Kondom, Seharusnya Kampanye Anti Seks Bebas Dan Seks Pranikah.
AIDS.
Satu kata yang sampai saat ini masih saja terus menjadi mimpi buruk yang menakutkan untuk semua bangsa di dunia. Negara- negara yang masih berkembang dan yang memiliki populasi penduduk tinggi adalah tempat subur untuk penyakit ini.
1 Desember lalu, masyarakat di seluruh dunia ramai- ramai memperingati hari AIDS sedunia. Dari tingkat nasional sampai tingkat kabupaten diadakan berbagai penyuluhan dan sosialisasi. Namun, muncul pertanyaan, apa sih yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki keadaan ini?
Selama lima tahun sejak 2001 sampai 2005, penularan HIV/AIDS sekitar 50% didominasi karena NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif), namun belakangan ini terjadi perubahan. Kebanyakan penularan AIDS akhir- akhir ini disebabkan oleh hubungan seksual. Hubungan seksual!
Pertanyaan kedua, bagaimana cara mencegah AIDS yang disebarkan dari hubungan seksual? Secara umum, masyarakat mengenal ada beberapa tingkatan cara pencegahan. Saya urutkan dari yang paling efektif sampai yang kurang efektif:
- Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali
- Tidak melakukan hubungan seksual yang berganti- ganti pasangan (baca: menikah ; pasangan tetap tanpa ikatan adalah TANPA tanggung jawab dan hanya akan melahirkan rantai seks bebas)
- Menggunakan pengaman (baca: kondom)
Pada pilihan pertama, jelas itu hal yang nyaris tidak mungkin. Siapa yang mau menjalani seumur hidup tanpa berhubungan seks sama sekali? Kecuali Anda adalah seorang pendeta spiritual dari ajaran tertentu, mungkin saja. Tapi tanpa seks, bagaimana manusia bisa berkembang biak? Melalui kloning? Saya harap tidak.
Pilihan kedua dan ketiga adalah yang tampak paling masuk akal. Keduanya bisa dilakukan oleh siapa saja, dan bukan hal yang rumit. Namun, kalau kita bisa memilih pilihan kedua, kenapa memilih pilihan yang lebih rendah dan lebih tidak efektif, yaitu kondom?
Saya sedih sekali ketika melihat bahwa orang- orang banyak yang lebih keras menyuarakan sosialisasi kondom untuk mencegah HIV/AIDS daripada mengkampanyekan anti-seks bebas dan seks pranikah. Seperti pagi ini, saya membaca harian Media Indonesia, di halaman depan terdapat foto tentang pekan kondom nasional di Jakarta. Dua orang wanita cantik berada di tengah kumpulan balon- balon kondomberwarna- warni. Hmm..., melambangkan sesuatu yang entah bagaimana menjelaskannya. Bahkan di halaman lain diberitakan adanya pembagian kondom secara gratis di Palangkaraya yang mendapat penolakan dari Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kalteng.
Lalu ini apa? Sosialisasi kondom? Atau promosi kondom?
Banyak orang bersikeras, bahwa kondom bukanlah penyebab terjadinya seks bebas. Yang menyebabkan seks bebas, ujarnya, adalah pornografi, pornoaksi, minuman keras dan narkotika. Saya termenung, mungkin banyak juga yang tidak sadar kalau ada produsen kondom yang pernah mensponsori sebuah situs porno di Indonesia (entah sekarang masih ada atau tidak), dan juga menyelipkan kehidupan seks bebas dalam iklan-iklannya (walau hanya berupa simbol- simbol dan animasi). Maksud saya, kalau Anda berjualan kondom, siapa sih konsumen utama Anda? Kalau Anda produsen kondom, dimana Anda akan memasang iklan? Di majalah pria dewasa yang jelas mendukung seks bebas, atau di majalah religius yang menekankan wajibnya pernikahan sebelum seks? Jarang atau hampir tidak ada produsen kondom yang menegaskan dalam iklan mereka bahwa produk mereka ditujukan pada pasangan yang telah menikah. Atau memang tidak demikian?
Memang, penggunaan kondom dibuktikan dapat mengurangi penyebaran virus HIV melalui hubungan seksual. Bahkan ada yang mengklaim bahwa kondom yang baik dapat 99% (bukan 100 lho...) mencegah penularan virus HIV. Tapi saya katakan lagi, kenapa harus memilih alternatif yang lebih rendah bila ada pilihan yang lebih baik?
Mungkin kita masih saja terpengaruh dengan pencegahan AIDS di luar sana. Di negara- negara sekuler yang menganggap diri mereka maju (namun mundur secara moral dan spiritual), mereka memang hampir tidak punya pilihan lain. Mereka tidak mungkin mengkampanyekan anti seks bebas dan seks pranikah, karena itu memang sudah jadi bagian dari budaya mereka yang sudah mendarah daging! Lalu mereka menggunakan solusi terakhir, yaitu penggunaan kondom. Lalu di negara kita? Keadaannya berbeda dengan mereka. Walaupun tidak secara total, namun masyarakat Indonesia pada umumnya masih memperhatikan norma- norma agama dan norma adat ketimuran. Sepengetahuan saya, hampir semua agama yang populer di negeri kita ini tidak mengizinkan perilaku seks bebas dan seks pranikah. Kita gunakan itu, kita selangkah lebih baik.
Lagipula, kengerian terhadap AIDS bukanlah satu-satunya alasan kenapa kita harus melenyapkan, memangkas, menghambat, dan mencegah budaya seks bebas dan seks pranikah di masyarakat kita. AIDS adalah akibat, bukan sebab. AIDS adalah sebuah hukuman, karena manusia arogan tidak mampu mengendalikan kebebasan yang mereka miliki. Pada akhirnya, bayi- bayi tidak berdosa ikut terkena bencana atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Pikirkanlah anak cucu kita di kemudian hari. Kita yang berbuat dosa dan kesalahan, namun mereka yang akan menanggung akibatnya.
Apa yang harus kita lakukan bila kita peduli? Lakukan apapun yang kita bisa. Bagi Anda yang mangaku memiliki agama, coba kaji ulang agama Anda, perdalam. Bagi Anda yang belum memiliki agama, segera temukan kepercayaan Anda. Entah untuk apa hidup di dunia ini bila tanpa kepercayaan.
Bila Anda adalah orangtua yang memiliki anak, katakan kepada anak Anda,
“Jagalah keperawananmu. Karena dengan menjaganya, berarti kamu menjaga dirimu sendiri.”
BUKAN dengan berkata,
“Nak, jangan lupa bawa kondom. Bapak tidak berharap kamu melakukan hal yang macam- macam, tapi tidak ada salahnya untuk jaga- jaga. Kita tidak tahu kapan kita akan membutuhkannya.” Secara psikologis, itu sama saja mengizinkan si anak untuk berhubungan seks sebelum waktunya.
Saya percaya bahwa solusi terbaik untuk masalah ini, adalah dengan menghapuskan budaya seks bebas secara konsisten, dari generasi ke generasi, dari orangtua ke anak, lalu ke cucu dan seterusnya...., bukan dengan membiarkan anak kita membawa kondom di dalam tas saat menghadiri pesta ulang tahun temannya.
NOSEXBEFOREMARRIED