happiness. home. and a killing machine.

Rivai's posts with tag: happy new year

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag happy new year
Blog EntryTidak (Terlalu) Memaknai Tahun BaruDec 29, '07 3:42 AM
for everyone


Seseorang bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa makna tahun baru bagimu?"

Si A berkata, "Sebuah awal untuk memulai hidup yang baru dengan suasana dan semangat yang baru..."

Si B berkata, "Liburan, pesta kembang api, terompet, bakar ayam, dan hitungan mundur!"

Si C berkata, "Satu waktu dimana orang- orang dapat mencari nafkah dan penghasilan yang lebih. Ada yang berjualan terompet, membuka tempat wisata, dan sebagainya."

Hmm... aneh sekali ya? Saya sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang spesial pada peringatan tahun baru. Tampaknya semua orang di dunia ini menjadi sangat  berlebihan dalam mengartikan perubahan dari tanggal 31 Desember ke tanggal 1 Januari. Maksud saya, tahun baru tidaklah lebih dari sekedar pergantian tanggal 31 Desember 2007 ke 1 Januari 2008. Tahun itu, tahun masehi juga bukan satu- satunya sistem kalender yang diterima di Indonesia ini. Masih ada kalender hijriah, kalender jawa, dan lain sebagainya. Lalu apa yang membuat tahun baru masehi menjadi sangat spesial dibandingkan dengan tahun baru lainnya? Jawabannya cuma satu: Latah.

Penanggalan masehi memang penanggalan yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Katanya, dihitung sejak kelahiran seseorang yang disebut Jesus. Oleh karena itu zaman sebelum masehi disebut sebagai BC (Before Christ). Lalu, tidakkah itu kemudian menjadi sebuah perayaan khusus umat Kristen? Kenyataannya, seluruh dunia merayakannya. Muslim, Buddha, Hindu, Konghucu, semua masyarakat yang berada di kota metropolis dan berbudaya liberal. Lalu, apakah yang membuat mereka merasa 'harus' merayakan tahun baru masehi, padahal tidak berhubungan dengan kepercayaan mereka? Jawabannya lagi- lagi satu: Latah.

Mereka cuma ingin pesta! Memangnya apa lagi yang mereka inginkan? Mereka mencari alasan untuk berpesta. Tahun baru hanyalah salah satunya. Yang lainnya adalah hari Valentine, Halloween, hari ulang tahun, weekend, dan banyak lagi. Manusia sudah sedemikian jenuhnya dengan kehidupan sehari- hari yang monoton, sehingga jiwa mereka berteriak : "Aku bosan! Aku ingin hari yang berbeda! Aku ingin hari yang spesial!" Lalu untuk mengakali kebosanan itulah mereka membuat hari ulang tahun, tahun baru, hari ibu, hari ayah, hari kasih sayang, hari berbohong, hari bermain hantu-hantuan, hari kondom, dan entah apa lagi.

"Lain kali aku akan membuat hari meloncat dari atas tebing." -quote dari kartun Spongebob.

Oleh karena sebenarnya pemaknaan tahun baru tidaklah lebih dari pergantian hari seperti biasanya, maka akan sangat berlebihan bila kita menempatkan introspeksi kita dan pembaruan kehidupan pada tahun baru masehi beberapa hari lagi. Memulai hidup yang baru sesungguhnya dimulai setiap hari, setiap bangun tidur, atau malah setiap detiknya kita bernafas. Melakukan retrospeksi sesungguhnya dilakukan setiap malam, setiap akan tidur, atau malah setiap detik kita menarik nafas. Membatasi makna introspeksi dan memulai kehidupan baru hanya pada saat tahun baru, hanya akan mereduksi maknanya. Seperti halnya mereka mereduksi makna kasih sayang pada hari Valentine.

Mereka pasti akan menyangkalnya. Saya yakin, mereka punya sejuta bahasa untuk dijadikan alasan. Tapi sebenarnya alasannya seragam: Mereka hanya mencari alasan untuk berpesta, berhura- hura, meniup terompet, konvoi, melihat kembang api, minum wine, ... tidak lain dan tidak bukan, hedonisme.

Ohya, satu lagi. Kesempatan bagi para teroris di luar sana untuk beraksi.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help